Berkaitan dengan karakter hiperaktifnya, Lendo Novo kecil sangat akrab dengan hukuman dari orang tuanya yang memandangnya sebagai anak nakal. Sehingga sang ayah pun memberikan didikan dengan keras kepada beliau. Walaupun demikian, Bang Lendo menyatakan didikan sang ayah justru memberi pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.
Sewaktu kecil beliau lebih dekat dengan sang nenek, sosok yang menjadi penjaga dan pembela kala mendapat hukuman sang ayah. Lendo kecil bahkan tidur bersama nenek hingga berumur 10 tahun. Dalam bimbingan neneknya, Lendo kecil ditempa ketegasan dalam kepemimpinan, yang memacu dirinya untuk berjuang keras dalam meraih sesuatu.
Ketertarikan Bang Lendo pada dunia pendidikan sudah terlihat saat masih berusia sekolah dasar. Ia lebih suka bermain dengan anak-anak yang lebih dewasa. Ia betah berlama-lama berdiskusi dengan orang-orang yang sudah memiliki pemikiran matang. Kebiasaan itu lama kelamaan membentuk pemikirannya lebih dewasa dan visioner.
Pada saat masa perkuliahan di ITB, banyak pengalaman yang beliau torehkan seperti memiliki catatan kepemimpinan seperti Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan PATRA ITB, Sekretaris Jenderal Forum Ketua Himpunan Jurusan ITB (Sekjen FKHJ), Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan PATRA ITB, Ketua Komisi Pendidikan FKHJ ITB, Ketua Umum Yayasan Alam, dan Ketua Dewan Pengurus Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil.
Pada masa tersebut ia pun terjun ke dalam dunia aktivis, dikisahkan pada tahun 1989 ia dituding aktor unjuk rasa mahasiswa saat eks Menteri Dalam Negeri jaman Orba, Rudini, berkunjung ke ITB. Pada akhirnya aksi demonstrasi itu berujung tragis, ia dibui 7 bulan bersama 10 orang mahasiswa ITB lainnya.
Di hotel prodeo, bang Lendo justru menemukan gagasan penting. Ia ingin berkontribusi membangun negerinya melalui jalur pendidikan. Ia meyakini seluruh bangsa di dunia memulai kebangkitan melalui jalur pendidikan. Setelah cukup lama memikiran konsep pendidikan, ia menemukan konsep pendidikan dari surah Al-Baqarah ayat 30, bahwa manusia diciptakan di muka bumi sebagai khalifah (pemimpin atau pengatur). Dari ayat itu, ia merancang kurikulum ideal yang melahirkan pemimpin.
Kurikulum itu mencakup empat pilar yakni pilar Akhlak Mulia (cara manusia bertakwa kepada Allah Ta'ala), Logika (cara tunduk makhluk selain manusia --flora dan fauna- kepada Allah Ta'ala, kepemimpinan (cara menjadi pemimpin) dan bisnis (cara mencari rejeki halal barokah).
Setelah keluar dari penjara, ia menjalankan konsep tersebut dengan mendirikan TK Salman di bukit Awi Ligar, Bandung di sebuah rumah tipe 70. Ia mendidikan anak usia dini dengan metode baru buah pikirannya. Tak lama setelah berdirinya TK Salman, pegiat pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia datang berguru kepadanya.
Namun, mereka mengeluhkan dana yang cukup besar untuk mewujudkan konsep sekolah seperti TK Salman. Paradigma sekolah berkualitas selalu mahal tentu mematikan harapan masyarakat kelas bawah yang juga ingin mendapatkan kualitas pendidikan yang baik.
Namun, mereka mengeluhkan dana yang cukup besar untuk mewujudkan konsep sekolah seperti TK Salman. Paradigma sekolah berkualitas selalu mahal tentu mematikan harapan masyarakat kelas bawah yang juga ingin menda
Bang Lendo pun bersikeras ingin mengubah paradigma itu menjadi sekolah berkualitas untuk semua. Proses dalam mencapai cita-cita itu memang tak mudah, panjang dan berliku. Ia terus memperbaharui konsep Sekolah Alam yang berkualitas untuk semua kalangan. Langkah awal yang ia lakukan adalah merekrut guru terbaik, mengembangkan metode belajar-mengajar yang tepat, dan menyediakan buku-buku berkualitas.
Hingga akhirnya Pada 1998, Bang Lendo berhasil mendirikan Sekolah Alam yang dicita-citakan selama ini, kini sekolah tersebut bernama Sekolah Citra Alam di Ciganjur, Jakarta Selatan, dengan menempati lahan seluas 7.800 meter persegi.
Pada saat itu, kondisi sekolahnya cukup anti-mainstream dengan sekolah-sekolah konvensional lainnya, menurut penuturan ibu Jusjrijanah, pada awal pembukaan, sangat sepi peminat, dikarenakan infrastruktur hanya berbentuk saung tradisional dan hamparan lapangan rumput, sedangkan mindset masyarakat pada saat itu terstigma sekolah konvensional dengan bangunan permanen.
Namun seiring berjalannya waktu, orang tua peminat sekolah alam terus meningkat dari tahun ke tahun, dan Bang Lendo turut membidani berdirinya beberapa sekolah alam di berbagai tempat, hingga akhirnya pada tahun 2011, keberadaan sekolah alam di Indonesia semakin terlegitimasi, dengan terbentuknya Jaringan Sekolah Alam Nasional (JSAN) yang menaungi seluruh sekolah alam di Indonesia.
Bang Lendo juga dikenal sebagai social entrepreneur, beliau memiliki catatan yang mumpuni sebagai konsultan, project manager pengembangan industri, advisor program pengembangan industri, konsultan perencanaan kerjasama pembinaan industri untuk kepentingan UKM, serta perencana berbagai program mulai dari regional hingga level internasional.
Adapula prestasi yang pernah diraih oleh Sekolah Alam di antaranya, Kid Smart IBM World Program, Ashoka Fellowship, The Global Leading Association of Leading Social Entrepreneurs, dan Membership Montage Indonesia British Council.
Sumber : www.kompasiana.com